BI : STABILITAS EKONOMI PRIORITAS DI TENGAH SUKU BUNGA GLOBAL TINGGI
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
02 October 2026
27458695
IQPlus, (2/10) - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan stabilitas ekonomi tetap menjadi prioritas dalam menciptakan dan menjaga iklim ekonomi yang kondusif di Indonesia di tengah fenomena suku bunga global yang tinggi (higher for longer).
Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan BI sendiri di satu sisi menjaga stabilitas dalam hal ini nilai tukar, karena fenomena higher for longer pasti berdampak terhadap sektor keuangan, sementara di sisi lain BI juga sesuai dengan mandat dari Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), BI harus bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan iklim ekonomi kondusif untuk pertumbuhan sektor riil, dan juga untuk penciptaan lapangan pekerjaan.
"Jadi yang kami selaraskan sekarang adalah kita harus menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. Oleh karena itu, stabilisasi itu tetap menjadi prioritas kami, karena iklim ekonomi yang kondusif akan tercapai kalau stabilitas ekonomi terjaga. Sehingga kebijakan moneter akan kami fokuskan untuk stabilitas," ujar Destry di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, Indonesia menghadapi situasi ketidakpastian tinggi dan juga situasi di level global terkait fenomena higher for longer.
BI sendiri memiliki berbagai kebijakan, kebijakan utama yaitu moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, serta kebijakan pendukung seperti pendalaman pasar keuangan, ada kebijakan yang inklusif, ramah lingkungan atau green, kebijakan daerah/regional di mana itu semua tentunya menjadi satu kebijakan yang utuh yang dibaurkan.
"Saat ini apa yang jadi concern-nya kita yakni kita butuh suplai valas yang banyak. Oleh karena itu, kami menjalankan kebijakan moneter walaupun kami tidak menaikkan suku bunga BI Rate, tapi kami memberikan suatu inovasi kebijakan dalam bentuk insentif untuk biaya hedging kalau (investor) asing masuk ke sini, capital inflow masuk, kita berikan insentif dalam bentuk pengurangan biaya hedging-nya," kata Destry.
Dia mengungkapkan, insentif untuk biaya hedging tersebut membantu, sejak diberlakukan pada bulan lalu inflow yang memanfaatkan insentif tersebut sudah mencapai sekitar 7 miliar dolar AS.
"Artinya, alhamdulillah tanpa kita menaikkan BI Rate, sasaran kita untuk menjaga stabilitas paling tidak untuk rupiah dan cadangan devisa kita tercapai," ujarnya.
Destry kemudian menyampaikan kebijakan yang lain, BI akan lebih fokus untuk pertumbuhan. Kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) BI yang dilakukan terkait bagaimana mengoptimalkan kebijakan BI di makroprudensial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
BI melihat sektor perumahan sebagai sektor yang memiliki dampak beruntun yang tinggi sekali serta interkoneksi keterkaitan antar sektor ke depannya sehingga dampak beruntun terhadap sektor hulu dan hilir (forward and backward linkage) cukup besar. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
