BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

DPR RI DORONG PERCEPATAN OPERASIONAL INDUSTRI BATERAI NASIONAL

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

24 September 2026

26625520

IQPlus, (24/9) - Komisi VII DPR RI mendorong pemerintah mempercepat operasional secara penuh Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk menunjang ekosistem kendaraan listrik sekaligus mendongkrak tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hingga 80 persen.

"Kami mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan operasional penuh IBC karena akan mendatangkan multiplier effect yang positif bagi iklim investasi tanah air," kata Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty saat kunjungan kerja Panitia Kerja Ekosistem Kendaraan Listrik Nasional dan RUU Kawasan Industri di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jabar, Rabu.

PT Industri Baterai Indonesia atau IBC selaku perusahaan holding milik negara (BUMN) yang dibentuk khusus untuk membangun ekosistem kendaraan listrik dan industri baterai terintegrasi dari hulu ke hilir saat ini baru memasuki fase pertama atau operasional komersial bertahap.

Kehadiran IBC menjadi langkah strategis pemerintah untuk memanfaatkan kekayaan alam Indonesia, terutama cadangan nikel terbesar di dunia agar tidak hanya dieksplorasi sebagai bahan mentah, melainkan dihilirkan menjadi produk bernilai tinggi seperti baterai kendaraan listrik.

Evita meyakini operasional penuh IBC mampu memasok kebutuhan kawasan industri, khususnya perusahaan manufaktur produsen kendaraan listrik terutama baterai.

Sebagaimana aktivitas produksi motor listrik bermerek dagang Alva di bawah naungan PT Ilectra Motor Group (IMG) yang telah memproduksi 20.000 unit saat dikunjungi Presiden Prabowo Subianto pada 13 Agustus 2026.

"Alva ini merupakan salah satu mitra strategis pemerintah yang mendapatkan kemudahan investasi untuk memproduksi kendaraan roda dua ramah lingkungan secara massal," ucapnya.

Evita mengungkapkan saat ini realisasi TKDN untuk industri motor listrik di perusahaan ini baru menyentuh angka 40 persen dengan tantangan terbesar ada pada ketergantungan impor bahan baku komponen utama, terutama baterai dan material plastik.

"Target kita bertahap dari 40, 60 hingga 80 persen. Jika proses di IBC sudah rampung dan mampu memproduksi baterai sendiri di dalam negeri, kita tidak perlu impor lagi. Dengan begitu, target TKDN 60 sampai 80 persen bisa terealisasi," ujarnya.

Menurutnya upaya pemerintah mewujudkan transisi penggunaan kendaraan massal dari berbahan fosil menjadi listrik akan membawa dampak efisiensi yang sangat besar, baik dari aspek menekan emisi karbon hingga penghematan bahan bakar minyak.

"Bagi pemerintah, ini langkah konkret menekan emisi karbon sementara bagi masyarakat kelas bawah dapat menghemat pengeluaran bahan bakar minyak. Kemudian kita mampu mewujudkan cita-cita motor listrik nasional yang mandiri," katanya. (end/ant)