PART CATAT PERTUMBUHAN PENJUALAN 38,23% PADA 2025
Share via
Terbit Pada
29 September 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 24-09-2026, 04:25:pm
27160459
IQPlus, (29/9) - PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART) mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 38,23% sepanjang 2025, dari Rp267,38 miliar pada 2024 menjadi Rp369,59 miliar. Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, PART melanjutkan pengembangan produk di luar komponen otomotif dan menyiapkan Right Issue pada kuartal I 2027 untuk memperkuat modal kerja.
Dalam siaran pers PART (29/9) Laba kotor Perseroan meningkat 20,93% dari Rp58,53 miliar menjadi Rp70,78 miliar. Laba usaha tumbuh 29,93% dari Rp31,26 miliar menjadi Rp40,62 miliar, sedangkan laba bersih naik 29,97% dari Rp23,24 miliar menjadi Rp30,21 miliar.
Direktur PART, Tjoeng Rino Saputra, menyampaikan bahwa pertumbuhan pendapatan dan laba tersebut menjadi landasan bagi Perseroan untuk meningkatkan skala usaha dan memperluas portofolio produk.
"Pertumbuhan kinerja tahun 2025 menjadi landasan penting bagi Perseroan untuk melanjutkan ekspansi. Ke depan, kami akan tetap berfokus pada penguatan bisnis utama, pengembangan produk, serta peningkatan kapasitas produksi dan efisiensi operasional," ujar Tjoeng Rino Saputra.
Membawa Kemampuan Manufaktur ke Pasar yang Lebih Luas
Bisnis komponen otomotif tetap menjadi fondasi kegiatan usaha PART. Pada saat yang sama, Perseroan mengembangkan produk untuk menjangkau kebutuhan industri lain dengan memanfaatkan kemampuannya di bidang engineering, welding, stamping, fabrikasi, perakitan, dan pengendalian kualitas.
Sejumlah produk yang tengah dikembangkan meliputi mesin pengeringfood tray, mesin panjat kelapa, gas oil water fryer, mesin penabur dolomit, serta mesin digester Somya. Produk-produk tersebut memberi PART peluang untuk menjajaki pasar peralatan pengolahan pangan, pertanian, serta mesin dan peralatan industri.
Bagi PART, diversifikasi merupakan langkah untuk menerapkan keahlian manufaktur yang telah dibangun Perseroan pada kebutuhan pelanggan yang lebih beragam. Pengembangan produk akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan permintaan pasar, kemampuan produksi, dan kelayakan ekonomi masing-masing peluang usaha.
Pengembangan Lini Bisnis Non otomatif
Pemgembangan lini bisnis non otomotif menjadi target utama pengembangan kinerja keuangan PART. Lini bisnis ini memiliki potensi pasar yang sangat besar dan margin laba yang lebih baik. Dengan kemampuan engineering, PART akan memproduksi berbagai jenis mesin yang dapat diaplikasikan langsung untuk berbagai kebutuhan di kegiatan pertanian dan pengolahan limbah hingga kebutuhan peralatan rumah tangga.
Kemampuan PART dalam fabrikasi, stamping, welding, perakitan, dan integrasi peralatan menjadi dasar pengembangan lini ini. Dengan pendekatan tersebut, Perseroan menjajaki peluang yang mencakup penjualan mesin maupun penyediaan solusi engineering berbasis proyek.
Siapkan Right Issue untuk Memperkuat Modal Kerja dan Buyback SahamUntuk mendukung pertumbuhan usaha, PART merencanakan Penambahan Modal dengan
Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau Right Issuesebanyak banyaknya senilai Rp200 miliar. Dana yang diperoleh, setelah dikurangi biaya emisi, direncanakan untuk memperkuat modal kerja, termasuk pembelian bahan baku, peningkatan kegiatan produksi, dan kebutuhan operasional lainnya. Pelaksanaan Right Issue akan memperhatikan kondisi pasar serta tunduk pada persetujuan pemegang saham, pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan, dan ketentuan yang berlaku.
Melalui penguatan modal kerja dan pengembangan produk, PART berupaya membangun ruang pertumbuhan yang lebih luas. Perseroan akan tetap mengembangkan bisnis komponen otomotif sekaligus memperluas kemampuan manufaktur dan engineering untuk melayani berbagai industri secara bertahap.
Selain rencana Right Issue, PART juga merencanakan buyback sebanyak-banyaknya 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pada tanggal RUPSLB, dengan anggaran maksimal Rp10 miliar. Buyback direncanakan berlangsung secara bertahap dalam waktu paling lama 12 bulan setelah memperoleh persetujuan RUPSLB, dengan memperhatikan kondisi pasar, ketersediaan dana, kebutuhan operasional, serta ketentuan peraturan perundang-undangan dan peraturan Bursa Efek Indonesia yang berlaku. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
