PENGAMAT : PENGUATAN DOLAR AS JADI BERKAH DAERAH PENGEKSPOR
Share via
Kategori
Komoditi
Terbit Pada
29 May 2026
14849273
IQPlus, (29/5) - Pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Kalimantan Timur, Jusuf Kuleh mengatakan penguatan kurs dolar AS yang menyentuh level Rp17.814 per dolar AS pada Jumat pagi ini, bisa menjadi berkah bagi daerah yang berbasis pada ekspor komoditas.
"Kenaikan kurs dolar AS terhadap rupiah bisa menjadi berkah bagi daerah yang berbasis ekspor komoditas, seperti Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) yang mengekspor batu bara, minyak bumi, gas alam cair (LNG), dan kelapa sawit, karena pembayaran menggunakan mata uang dolar AS," kata Jusuf Kuleh di Samarinda, Kaltim, Jumat.
Menurut Jusuf, bagi para raksasa tambang dan perkebunan di Kaltim, situasi saat ini laksana durian runtuh yang melipatgandakan keuntungan mereka dalam sekejap, sehingga secara tidak langsung pun berpotensi mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) melalui dana bagi hasil.
Namun di sisi lain, kenaikan kurs dolar AS terhadap rupiah juga menyebabkan kenaikan atau inflasi barang-barang impor. Termasuk bisa menyebabkan kenaikan biaya logistik dan transportasi sehingga otomatis akan menaikkan harga pangan di pasar-pasar tradisional baik di Samarinda, Balikpapan, maupun Penajam Paser Utara, Kaltim.
Apalagi, Kaltim bukan daerah produsen pangan utama, sehingga sebagian besar pasokan bahan kebutuhan pokok dan barang konsumsi masih harus didatangkan dari Pulau Jawa dan Sulawesi.
Selain itu, proyek raksasa Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sedang dikebut di kawasan Kaltim juga terancam terkena imbas dari kenaikan dolar AS.
Jusuf Kuleh berharap Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar uang termasuk di pasar spot untuk menahan laju pelemahan kurs rupiah agar tidak menembus batas psikologis baru.
Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Kaltim juga diharapkan bergerak cepat memanfaatkan momentum lonjakan pendapatan ekspor untuk mempertebal jaring pengaman sosial bagi masyarakat rentan.
"Rupiah yang kritis adalah ujian nyata bagi ketahanan ekonomi kita. Jika salah langkah dalam memitigasi risiko, angka Rp17.900 pada Kamis kemarin dan menjadi Rp17.800 Jumat ini, bukan sekadar rekor temporal, melainkan pintu masuk menuju krisis ekonomi, maka harus diantisipasi," kata Kuleh. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
