Terakhir diperbarui: 07-03-2026, 15:23
Americas
Harga minyak dan emas melonjak setelah eskalasi konflik AS–Israel–Iran. WTI naik 8% menembus USD72 per barel (level tertinggi delapan bulan) setelah serangan gabungan AS dan Israel ke Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan, terutama di Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Emas ikut menguat lebih dari 1% ke atas USD5.370 per ons sebagai aset lindung nilai, didorong lonjakan tensi geopolitik dan arus keluar dari obligasi serta mata uang, di tengah prospek kebijakan global yang semakin tidak pasti.
PPI AS naik di atas ekspektasi, tekanan harga dari sektor jasa masih kuat. Producer Price Index AS naik 0,5% MoM pada Januari, di atas perkiraan, dipicu lonjakan biaya jasa 0,8% MoM, sementara harga barang turun 0,3% akibat jatuhnya harga bensin. Secara tahunan, PPI naik 2,9% dan core PPI menguat 3,6%, menunjukkan tekanan inflasi hilir belum sepenuhnya mereda meski beberapa komoditas pangan dan energi melemah.
UST 10Y turun di bawah 4% seiring lonjakan permintaan safe haven. Yield Treasury AS tenor 10 tahun jatuh ke bawah 4%, terendah empat bulan, didorong kuatnya permintaan obligasi di tengah ketidakpastian kebijakan tarif AS, tensi Timur Tengah, serta kekhawatiran atas ketahanan ekonomi AS. Meski PPI naik lebih dari ekspektasi dua bulan beruntun dan pasar tenaga kerja tetap solid, investor tetap memproyeksikan pemangkasan suku bunga The Fed pertama pada Juli. DXY bertahan di atas 97,7, sementara pasar juga mencermati potensi kenaikan tarif global dari 10% menjadi 15% serta lanjutan dialog nuklir AS–Iran.
Europe
Pengangguran Jerman stabil, sementara ekspektasi inflasi Zona Euro terus menurun. Tingkat pengangguran Jerman bertahan di 6,3% pada Februari, mencerminkan pasar tenaga kerja yang masih melemah akibat tiga tahun pertumbuhan ekonomi yang lesu, meski jumlah pengangguran hanya naik tipis 1.000 secara musiman dan turun 14.700 secara non‑musiman. Di Zona Euro, ekspektasi inflasi rumah tangga kembali turun: proyeksi 12 bulan melemah ke 2,6%, sementara horizon tiga tahun tetap 2,6% dan lima tahun turun ke 2,3%, menunjukkan normalisasi persepsi inflasi yang cukup konsisten di seluruh kelompok pendapatan maupun usia.
Yield Eropa turun paska pemilu lokal Inggris dan inflasi Jerman melandai. Yield gilt Inggris 10 tahun turun ke 4,25%, terendah sejak Desember 2024, setelah kekalahan Labour dalam pemilu distrik memicu ketidakpastian politik dan kekhawatiran arah fiskal baru, meski inflasi rendah dan sikap BoE yang dovish meredam volatilitas. Yield Bund Jerman melemah ke 2,68% usai data inflasi yang mendekati target ECB, sementara OAT Prancis ikut stabil di sekitar 3,25% di tengah penantian pasar untuk keputusan kebijakan suku bunga lebih lanjut di Eropa.
Asia
Surplus dagang Korea catat rekor, output industri Jepang naik moderat. Korea Selatan membukukan surplus dagang tertinggi sepanjang sejarah sebesar USD15,51 miliar pada Februari, didorong lonjakan ekspor 29% YoY ke USD67,45 miliar dengan dukungan kuat dari permintaan global chip, sementara impor naik lebih lambat 7,5%. Di Jepang, produksi industri meningkat 2,2% MoM pada Januari setelah penurunan bulan sebelumnya, dipimpin kenaikan produksi kendaraan dan plastik, meski hasilnya masih di bawah ekspektasi pasar.
Yield JGB turun ke 2,13% karena ketidakpastian arah kebijakan BOJ. Yield obligasi Jepang tenor 10 tahun melemah ke sekitar 2,13% setelah tiga hari kenaikan, dipicu ketidakpastian kebijakan BOJ menyusul kekhawatiran PM Takaichi atas kenaikan suku bunga lanjutan dan penunjukan dua akademisi reflasionis ke dewan kebijakan. Selain itu, inflasi Tokyo yang turun ke level terendah lebih dari setahun akibat subsidi energi memperkuat pandangan bahwa BOJ dapat menunda kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
