bonds

    Fixed Income Daily Notes 1 April 2026

    Perusahaan

    Fixed Income

    Terbit Pada

    01 April 2026 - 08.00am
    vector
    pdf icon

    PDF

    Fixed Income Daily Notes 1 April 2026

    Lihat

    Terakhir diperbarui: 03-04-2026, 23:42

    Americas

    Lowongan kerja AS turun, sementara aktivitas bisnis Chicago melambat. Job openings AS turun 358 ribu menjadi 6,88 juta pada Februari 2026, di bawah ekspektasi 6,92 juta, terutama dari sektor akomodasi & makanan serta mining. Penurunan terjadi di seluruh region, sementara hires turun menjadi 4,8 juta dan separations stabil di 5 juta. Di saat yang sama, Chicago Business Barometer melemah ke 52,8 dari 57,7, menandakan ekspansi yang lebih lambat dengan pertumbuhan pesanan dan output yang moderat, tenaga kerja menurun, serta backlog pesanan naik ke level tertinggi sejak 2022. Tekanan harga juga meningkat seiring percepatan indeks prices paid.

    Harga WTI melemah di tengah harapan meredanya tensi Timur Tengah. WTI turun ke sekitar USD101,7 per barel pada Rabu pagi, memperpanjang pelemahan seiring meningkatnya harapan de‑eskalasi setelah laporan bahwa Presiden AS Donald Trump dapat mengakhiri operasi sebelum Selat Hormuz dibuka kembali dan Iran menyatakan kesiapan menghentikan konflik dengan syarat tertentu. Meski sentimen mereda, harga minyak masih melonjak hampir 40% sepanjang Maret akibat gangguan pasokan dan kerusakan infrastruktur di produsen OPEC.

    UST yield turun, dolar tetap menguat di tengah tingginya ketidakpastian global. Yield US Treasury 10 tahun turun ke 4,3% seiring ketidakpastian dampak perang pada perekonomian AS. Powell menegaskan ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terjaga dan kebijakan Fed cukup fleksibel untuk menilai dampak perang Iran. Sementara itu, indeks dolar mendekati 100 setelah menguat hampir 3% bulan ini, didorong arus safe‑haven, lonjakan harga energi, dan memudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed.

     

    Europe

    Inflasi Zona Euro naik ke level tertinggi lebih dari setahun. Inflasi tahunan Zona Euro meningkat ke 2,5% pada Maret 2026 dari 1,9% di Februari, didorong lonjakan biaya energi 4,9% yang menjadi kenaikan pertama dalam hampir setahun akibat konflik Timur Tengah. Meski tekanan di sektor energi naik, harga jasa, barang industri, serta makanan justru melandai, membuat inflasi inti turun ke 2,3%. Kenaikan inflasi paling mencolok terjadi di Jerman, Prancis, Spanyol, dan Belanda, sementara Italia tetap stabil di 1,5%, menandakan tekanan harga yang lebih luas kembali mendorong inflasi Zona Euro melampaui target 2% ECB.

      

    Yield Eropa dan Inggris melemah. Yield OAT Prancis, BTP Italia, Bund Jerman, dan gilt Inggris turun tipis di akhir Maret saat pasar menilai ulang risiko pertumbuhan dari lonjakan harga energi imbas konflik Timur Tengah. Meski demikian, seluruh tenor masih membukukan kenaikan sekitar 40–60 bps sepanjang bulan, didorong inflasi Zona Euro yang naik ke 2,5% dan meredupnya ekspektasi pemangkasan suku bunga. Pasar kini memperkirakan setidaknya dua kenaikan suku bunga ECB pada 2026, sementara BOE juga mengalami repricing kebijakan meski pejabatnya tetap berhati‑hati terkait waktu pengetatan.

    Asia

    Surplus dagang Korea Selatan rekor, indeks industri Australia anjlok. Korea Selatan membukukan surplus dagang USD25,74 miliar pada Maret 2026, rekor baru yang ditopang lonjakan ekspor 48,3% YoY ke USD67,45 miliar, sementara impor naik 13,2% YoY di tengah permintaan domestik yang solid. Sebaliknya, Australian Industry Index merosot 19,9 poin ke ‑23,6 akibat krisis energi, dengan permintaan melemah, biaya bahan bakar naik, dan gangguan rantai pasok menekan aktivitas ekonomi.

    Yield Australia dan Jepang turun di tengah penurunan imbal hasil global. Yield JGB 10 tahun Jepang melemah ke 2,34% mengikuti turunnya Treasury AS setelah Powell menegaskan ekspektasi inflasi tetap terjangkar, sementara kekhawatiran dampak ekonomi perang Iran menekan yield global. Di Australia, yield 10 tahun turun di bawah 5% namun masih dekat puncak 2011, dengan risalah RBA menyoroti ketidakpastian arah suku bunga dan risiko inflasi dari lonjakan energi, sementara pasar masih melihat peluang kenaikan lagi dalam beberapa bulan ke depan.