bonds

    Fixed Income Daily Notes 13 February 2026

    Perusahaan

    Fixed Income

    Terbit Pada

    13 February 2026 - 08.20am
    vector
    pdf icon

    PDF

    Fixed Income Daily Notes 13 February 2026

    Lihat

    Terakhir diperbarui: 18-02-2026, 12:24

    Americas

    Klaim pengangguran naik, penjualan rumah AS anjlok. Klaim awal pengangguran AS turun tipis ke 227.000 namun tetap dekat level tertinggi delapan minggu, sementara klaim lanjutan naik menjadi 1,862 juta akibat gangguan aktivitas bisnis dari badai musim dingin. Di sektor properti, penjualan rumah existing merosot 8,4% MoM ke 3,91 juta unit pada Januari 2026, terendah sejak September 2024 dan jauh di bawah ekspektasi 4,18 juta. Namun, pasokan rumah tetap rendah di 1,22 juta unit atau setara 3,7 bulan suplai.

    Emas dan perak anjlok akibat deleveraging di pasar. Harga emas dan perak mengalami tekanan (masing-masing 3% dan 10%), tertekan aksi jual lintas aset yang memaksa investor melikuidasi posisi untuk memenuhi margin calls. Tekanan terjadi meski yield Treasury AS 10 tahun turun ke level terendah dua bulan, menandakan pelemahan tidak terkait ekspektasi suku bunga tetapi murni kebutuhan likuiditas jangka pendek.

    UST turun, dolar stabil jelang rilis CPI AS. Yield Treasury AS 10 tahun melemah ke sekitar 4,11%, mendekati level terendah dua bulan, seiring pelemahan aset berisiko dan penyesuaian posisi investor global menjelang rilis CPI AS. Pasar memperkirakan inflasi Januari akan melandai, membuka peluang dua pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, dengan pemangkasan pertama kini diperkirakan pada semester II. Di pasar valas, indeks dolar stabil di sekitar 96,9, mendapat dukungan dari pelemahan yen setelah reli sebelumnya.

     

    Europe

    Ekonomi Inggris melambat, surplus transaksi berjalan Jerman stagnan. Ekonomi Inggris tumbuh 1,0% YoY pada Q4‑2025 dan 1,3% YoY di 2025, (1,2% di Q3 dan menjadi laju tahunan terlemah sejak Q2‑2024), tertekan kenaikan pajak, tensi dagang terkait kebijakan AS, dan serangan siber pada industri otomotif. Dari kawasan Eropa, surplus transaksi berjalan Jerman stabil di EUR 16,1 miliar pada Desember, namun komponen barang melemah karena impor naik lebih cepat daripada ekspor, defisit jasa melebar, dan surplus pendapatan primer menurun.

      

    Yield obligasi Eropa turun di tengah penantian data inflasi AS. Yield gilt Inggris 10 tahun bertahan di bawah 4,5% setelah data ekonomi Q4 menunjukkan pertumbuhan hanya 0,1% dan output industri serta konstruksi kembali terkontraksi, memicu tekanan politik bagi PM Keir Starmer di tengah kontroversi penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar AS serta meningkatnya ekspektasi pelonggaran BoE. Sementara itu, yield BTP Italia stabil sedikit di atas 3,4% dan OAT Prancis berada di bawah 3,37% karena pasar menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed ke Juli setelah rilis data ketenagakerjaan dan menanti rilis data inflasi AS.

    Asia

    Inflasi ekspektasi Australia naik, PPI Jepang sedikit melambat. Ekspektasi inflasi konsumen Australia naik ke 5,0% pada Februari 2026 dari 4,6% bulan sebelumnya, level tertinggi sejak Juni, setelah RBA menaikkan suku bunga 25 bps ke 3,85% di tengah tekanan biaya jasa dan pasar tenaga kerja yang ketat. RBA menilai inflasi akan bertahan di atas target 2–3% hingga setidaknya pertengahan 2027. Sementara itu, inflasi produsen Jepang naik 2,3% YoY pada Januari, sedikit melambat dari 2,4% di Desember, didorong moderasi harga makanan‑minuman, plastik, dan mesin produksi. Namun beberapa kategori seperti logam non‑ferrous dan peralatan bisnis mencatat percepatan, dan secara bulanan PPI naik 0,2%.

    Yield Jepang turun, Australia stabil di level tinggi. Yield JGB 10 tahun melemah ke sekitar 2,19% seiring membaiknya sentimen bahwa rencana ekspansi fiskal PM Takaichi tidak akan memperburuk beban utang, terutama setelah ia menegaskan pemotongan pajak makanan 8% tidak akan dibiayai lewat penerbitan obligasi baru. Di Australia, yield obligasi 10 tahun bertahan di sekitar 4,80% menyusul sikap hawkish RBA; Gubernur Bullock menegaskan inflasi “berangka tiga” tidak dapat diterima, memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan di tengah lonjakan ekspektasi inflasi ke 5%.