Terakhir diperbarui: 15-06-2026, 15:26
Americas
Pending home sales AS naik lanjut meski tekanan suku bunga. Penjualan rumah tertunda di AS naik 1,4% MoM pada April 2026, melampaui ekspektasi dan mencatat kenaikan tiga bulan beruntun, didorong pemulihan permintaan di sebagian besar wilayah. Meski demikian, tantangan dari suku bunga KPR yang masih relatif tinggi membatasi penguatan lebih lanjut, sementara keterbatasan pasokan berpotensi menjaga harga rumah tetap tinggi ke depan dan menekan keterjangkauan.
UN pangkas proyeksi pertumbuhan global akibat tekanan inflasi energi. Perserikatan Bangsa‑Bangsa menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,5% pada 2026 dari estimasi 3,0% pada 2025, mencerminkan dampak konflik Timur Tengah yang mendorong inflasi dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. Dukungan dari pasar tenaga kerja yang solid dan permintaan konsumen yang resilien masih ada, namun lonjakan harga energi memperbesar tekanan biaya bagi rumah tangga dan bisnis, sehingga outlook global tetap cenderung melemah.
Yield UST kembali melonjak di tengah lonjakan inflasi dan energi. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,7% dan tenor 30 tahun menembus 5,2% seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi di tengah kebuntuan konflik AS–Iran yang mengganggu pasokan global. Tekanan inflasi yang lebih tinggi, didukung data ekonomi dan pasar tenaga kerja yang tetap kuat, semakin membuka ruang bagi The Fed untuk melanjutkan pengetatan kebijakan moneter.
Europe
Pasar tenaga kerja Inggris melemah, pengangguran naik ke 5,0%. Jumlah payrolled employees turun 100 ribu MoM menjadi 30,2 juta pada April 2026 (‑0,7% YoY), penurunan bulanan ketiga beruntun dan yang terdalam sejak 2020. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran naik ke 5,0% (tiga bulan hingga Maret), sementara median gaji bulanan tetap tumbuh 4,9% YoY menandakan upah masih naik meski dinamika ketenagakerjaan memburuk. Kondisi ini menunjukkan mulai melemahnya pasar tenaga kerja Inggris di tengah tekanan biaya dan ketidakpastian ekonomi global.
Yield Eropa stabil di tengah pelemahan data tenaga kerja dan tekanan energi. Yield Gilt Inggris bertahan di sekitar 5,07% setelah data tenaga kerja yang lemah menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga, sementara Bund Jerman tetap tinggi mendekati 3,2% didorong kekhawatiran inflasi akibat harga energi yang masih elevated. Di tengah dinamika ini, pasar tetap memprice‑in pengetatan lanjutan oleh ECB dan Bank of England, mencerminkan kombinasi tekanan inflasi dan ketidakpastian politik serta geopolitik yang masih membayangi.
Asia
Sentimen manufaktur Jepang membaik, RBA tetap waspadai inflasi. Indeks Tankan Reuters untuk manufaktur Jepang naik ke 8 pada Mei, mencerminkan perbaikan di sektor komoditas meski sentimen masih rapuh akibat gangguan pasokan dan tekanan biaya, sementara di Australia bank sentral menilai risiko inflasi tetap tinggi akibat lonjakan harga energi dan mempertimbangkan perlunya pengetatan lanjutan di tengah ketidakpastian pertumbuhan. Hal ini menunjukkan tekanan biaya global mulai berdampak luas, sehingga prospek ekonomi kawasan masih dibayangi risiko stagflasi ringan.
Yield JGB bertahan tinggi didorong ekspektasi pengetatan BOJ. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik ke sekitar 2,75% mendekati level tertinggi multi‑dekade seiring data pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan, sementara tekanan inflasi dari kenaikan harga energi dan komentar hawkish pejabat BOJ menambah sentimen pengetatan kebijakan.
