bonds

Fixed Income Daily Notes 22 Sep 2026

Perusahaan

Fixed Income

Terbit Pada

22 September 2026 - 07.36am
vector
pdf icon

PDF

Fixed Income Daily Notes 22 Sep 2026

Lihat

Terakhir diperbarui: 23-09-2026, 06:34

Americas

Pejabat The Fed pertahankan sikap hawkish. Pejabat The Fed, termasuk Neel Kashkari dan Alberto Musalem, menilai tekanan inflasi AS masih cukup luas dan tidak hanya berasal dari kenaikan harga energi, melainkan juga tercermin pada sektor jasa dan permintaan domestik yang tetap kuat. Mereka menegaskan bahwa kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin diperlukan untuk membawa inflasi kembali ke target 2%, meskipun The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada September. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS berpotensi bertahan tinggi lebih lama dan tetap menjadi faktor penopang dolar AS serta yield UST.

Harga minyak turun ke level USD 100 per barel. Harga minyak Brent bertahan di USD 100 per barel setelah kekhawatiran pasokan energi global mulai mereda, didukung oleh meningkatnya upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik AS-Iran dan memulihkan arus energi dari Timur Tengah. Rencana pertemuan antara Presiden AS dan Presiden Iran, serta meningkatnya volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dan ekspor Arab Saudi, membantu menurunkan premi risiko geopolitik. Kondisi ini berpotensi mengurangi tekanan inflasi global dan memberikan sentimen positif bagi negara net importir energi seperti Indonesia.

Yield UST turun tipis seiring meredanya harga minyak. Yield UST tenor 10 tahun turun sekitar 4 bps ke 4,95% setelah harga minyak melemah selama empat hari berturut-turut, membantu mengurangi kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi. Meski demikian, pasar masih memperkirakan The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga satu kali lagi tahun ini, sementara komentar sejumlah pejabat The Fed akan terus dicermati untuk mengukur arah kebijakan moneter ke depan.

Europe

Euro tertekan di tengah risiko politik dan fiskal Eropa. Euro bertahan di sekitar USD 1,15 setelah sentimen pasar terbebani oleh meningkatnya ketidakpastian politik di Jerman dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis. Di sisi lain, harga gas alam Eropa turun di bawah EUR 77/MWh karena pasar semakin optimistis terhadap upaya diplomatik untuk meredakan konflik Timur Tengah, meski risiko gangguan pasokan LNG melalui Selat Hormuz masih membatasi penurunan harga energi lebih lanjut.

Yield obligasi Eropa turun seiring meredanya harga energi. Yield obligasi pemerintah Prancis, Jerman, dan Inggris bergerak lebih rendah setelah harga minyak terkoreksi dan kekhawatiran gangguan pasokan energi mulai mereda. Meski demikian, pasar masih mencermati risiko fiskal di Prancis serta ketidakpastian politik di Jerman, sementara ekspektasi suku bunga ECB dan BoE tetap relatif tinggi di tengah inflasi yang masih berada di atas target.

Asia

Yen melemah, sementara yuan tetap kuat jelang agenda AS-China. Yen Jepang bertahan di sekitar JPY 157 per USD setelah melemah lebih dari 2% pekan lalu, seiring pasar menilai siklus kenaikan suku bunga BoJ kemungkinan akan berlangsung lebih bertahap meskipun bank sentral tetap berkomitmen melanjutkan normalisasi kebijakan. Sementara itu, yuan offshore bertahan di level terkuat sejak 2022 setelah PBoC mempertahankan suku bunga acuannya.

Yield Jepang turun pasca keputusan BoJ, sementara China tetap akomodatif. Yield JGB tenor 10 tahun turun ke sekitar 2,95% setelah Bank of Japan menaikkan suku bunga menjadi 1,25%, karena pasar menilai normalisasi kebijakan kemungkinan berlangsung lebih bertahap meski BoJ tetap membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan. Sementara itu, yield obligasi pemerintah China tenor 10 tahun turun ke sekitar 1,67%, terendah sejak pertengahan 2025, seiring kebijakan PBoC yang tetap akomodatif di tengah perlambatan ekonomi, lemahnya permintaan kredit, dan ekspektasi stimulus tambahan sebelum akhir tahun.