Terakhir diperbarui: 06-09-2026, 15:35
Americas
Pasar tenaga kerja AS tetap resilien, peluang jeda The Fed meningkat. Klaim pengangguran mingguan AS bertahan rendah di sekitar 206 ribu, menunjukkan pasar tenaga kerja masih cukup kuat meski terdapat tanda-tanda perlambatan pada penciptaan lapangan kerja dan peningkatan jumlah pemutusan hubungan kerja di beberapa sektor. Di saat yang sama, Gubernur The Fed Christopher Waller mengindikasikan dukungan untuk mempertahankan suku bunga apabila tren disinflasi berlanjut, sehingga pasar mulai menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan September.
Harga minyak reli, emas pulih di tengah ketidakpastian The Fed. Harga minyak bertahan mendekati USD 92 per barel dan berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 10% setelah eskalasi konflik yang berpengaruh pada pasokan energi dari Timur Tengah. Di sisi lain, emas rebound ke sekitar USD 4.470 per ons setelah dolar AS dan yield UST melemah menyusul komentar sejumlah pejabat The Fed yang lebih dovish serta data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan perlambatan.
Yield UST dan dolar AS melemah setelah komentar dovish The Fed. Imbal hasil UST tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,74% dan indeks dolar AS melemah setelah Gubernur The Fed Christopher Waller mengindikasikan dukungan untuk mempertahankan suku bunga jika inflasi terus menunjukkan perbaikan. Pernyataan tersebut mendorong pasar menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi sekitar 50%, dari sekitar 70% sebelumnya. Fokus investor kini beralih ke data ketenagakerjaan AS dan inflasi yang akan datang untuk menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.
Europe
Pemulihan jasa Eurozone bertahan, tekanan inflasi Swiss meningkat. Aktivitas sektor jasa Eurozone tetap berada di zona ekspansi pada Agustus 2026, didukung oleh perbaikan permintaan domestik dan pertumbuhan ketenagakerjaan tercepat dalam delapan bulan terakhir. Namun, kenaikan biaya energi kembali mendorong tekanan biaya input, menandakan risiko inflasi masih perlu dicermati. Di Swiss, inflasi meningkat menjadi 0,8% YoY, tertinggi dalam dua tahun, sehingga berpotensi mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Yield obligasi Eropa terkoreksi dari level tertinggi. Yield Bund Jerman dan Gilt Inggris turun tipis setelah harga minyak dan gas alam mulai mereda, sehingga mengurangi kekhawatiran inflasi yang sempat mendorong lonjakan yield ke level tertinggi dalam bertahun-tahun. Meski demikian, pasar masih sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga ECB pada pertemuan berikutnya dan tetap mengantisipasi pengetatan lanjutan oleh ECB maupun BoE hingga 2027. Kondisi tersebut menunjukkan risiko inflasi dan suku bunga tinggi masih menjadi faktor utama yang menopang yield obligasi Eropa di level yang relatif tinggi.
Asia
Aktivitas jasa China membaik, yen menguat. PMI jasa China naik ke 51,4 pada Agustus 2026, didorong oleh peningkatan permintaan domestik, pertumbuhan lapangan kerja, dan membaiknya sentimen bisnis meski tekanan biaya masih meningkat. Sementara itu, yen Jepang menguat ke bawah JPY 157 per USD di tengah spekulasi intervensi pasar dan meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan akan kembali menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi dan pelemahan mata uang.
Yield Asia mulai terkoreksi. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun turun ke sekitar 2,96% setelah lelang obligasi tenor 30 tahun yang solid membantu meredakan tekanan jual di pasar obligasi, sementara penguatan yen dan stabilnya harga minyak mengurangi urgensi pengetatan agresif oleh BoJ. Di India, yield obligasi tenor 10 tahun juga menurun setelah masuknya dana FCNR(B) yang lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan likuiditas sistem perbankan dan mendukung sentimen terhadap pasar obligasi domestik. Meski demikian, ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ serta tingginya harga minyak dan yield UST masih membatasi ruang penurunan yield lebih lanjut.
