Terakhir diperbarui: 09-10-2026, 05:31
Americas
Risalah FOMC menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih melihat ruang kenaikan suku bunga lanjutan. Mayoritas anggota Federal Reserve menilai kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin diperlukan sebelum akhir 2026, meskipun keputusan ke depan akan tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi, prospek inflasi, dan keseimbangan risiko. Seluruh anggota FOMC juga mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan September menjadi 3,75%-4,00%, dengan pertimbangan bahwa inflasi masih tinggi, pasar tenaga kerja tetap kuat, dan aktivitas ekonomi masih tumbuh solid.
Harga minyak kembali menguat di tengah meningkatnya risiko geopolitik dan gangguan pasokan. Harga minyak mentah naik mendekati USD 89 per barel setelah muncul laporan bahwa pemerintahan AS meminta Pentagon menyiapkan opsi serangan terhadap Iran, sementara serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz masih berlanjut. Di saat yang sama, lebih dari 510 ribu barel per hari produksi minyak di Teluk Meksiko dihentikan sementara akibat Badai Tropis Isaias, meskipun ekspor minyak Timur Tengah masih menunjukkan tren pemulihan menuju level sebelum konflik.
Yield UST bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Yield UST tenor 10 tahun berada di sekitar 5,28% setelah sempat menyentuh level tertinggi 24 tahun di 5,36%, meskipun koreksi harga minyak dan kuatnya permintaan pada lelang obligasi tenor 10 tahun membantu meredakan tekanan kenaikan yield. Risalah FOMC juga menunjukkan konsensus yang kuat di antara pejabat The Fed bahwa suku bunga perlu tetap tinggi untuk mengendalikan inflasi, sementara lebih dari 80% pelaku pasar masih memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun.
Europe
Pasar properti Inggris masih menghadapi tekanan. Survei RICS menunjukkan indikator harga rumah Inggris memburuk ke -32% pada September 2026 dari -28% pada Agustus, sementara permintaan pembeli baru dan ekspektasi penjualan juga melemah seiring meningkatnya ekspektasi suku bunga dan biaya pembiayaan. Produksi industri Jerman di sisi lain naik 2,0% MoM pada Agustus, jauh di atas ekspektasi pasar, didorong oleh kuatnya aktivitas konstruksi dan sektor permesinan.
Yield obligasi Eropa kembali naik di tengah kekhawatiran inflasi dan fiskal. Yield Gilt Inggris tenor 10 tahun kembali naik di atas 5,4% setelah rebound harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh BoE. Sementara itu, yield OAT Prancis tenor 10 tahun mendekati 4,8% di tengah kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan ketidakpastian politik menjelang pemilu 2027, meskipun yield Bund Jerman relatif stabil di sekitar 3,5% karena predikatnya sebagai aset safe haven di EU.
Asia
RBI naikkan suku bunga, sementara indikator ekonomi Jepang tetap solid. Reserve Bank of India (RBI) menaikkan repo rate sebesar 25 bps menjadi 5,50%, kenaikan pertama sejak Februari 2023, di tengah pelemahan rupee dan inflasi yang bertahan di atas target 4%, sekaligus merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi FY2026/27 menjadi 7,1%. Di Jepang, indeks leading economic naik ke level tertinggi sejak 2014 didukung stimulus fiskal dan kondisi pasar tenaga kerja yang masih kuat, meski indeks coincident economic melemah akibat gangguan dari bencana alam dan konflik Timur Tengah.
Yield Jepang dan India bergerak mendekati level tertinggi multi-tahun. Yield JGB tenor 10 tahun turun tipis ke bawah 3,1% setelah pasar mencermati sinyal BoJ yang masih membuka ruang kenaikan suku bunga secara bertahap, didukung oleh pertumbuhan upah riil yang terus berlanjut. Sementara itu, yield obligasi pemerintah India tenor 10 tahun naik ke sekitar 7,23% setelah RBI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,50% dan mengadopsi sikap kebijakan yang lebih ketat di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi.
