Terakhir diperbarui: 26-06-2026, 03:10
Americas
Ketegangan AS–Iran dan inflasi Kanada naik, tekanan global tetap tinggi. Pernyataan yang tidak sejalan antara AS dan Iran mengenai penggunaan dana minyak mencerminkan ketidakpastian implementasi kesepakatan, sehingga menjaga risiko geopolitik tetap elevated. Di sisi lain, inflasi Kanada meningkat ke 3,2% YoY didorong lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah, meski tekanan inti relatif stabil, menunjukkan dampak shock energi masih dominan namun belum sepenuhnya menyebar ke seluruh komponen harga.
Harga minyak turun, ekspektasi pemulihan pasokan global semakin kuat. Pelemahan harga minyak ke sekitar USD 74 mencerminkan keyakinan pasar bahwa kesepakatan AS–Iran akan mempercepat normalisasi ekspor energi, didukung meningkatnya arus pengiriman melalui Selat Hormuz dan rencana kenaikan produksi dari negara Teluk. Dengan tambahan potensi pasokan yang signifikan serta permintaan yang masih lemah, tekanan ke bawah pada harga minyak berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
Yield UST naik, mencerminkan fokus pasar pada inflasi dan kebijakan The Fed. Kenaikan yield US Treasury ke sekitar 4,50% dan yield 2 tahun di atas 4,2% menunjukkan ekspektasi pengetatan kebijakan yang masih terjaga, meski harga minyak mengalami penurunan akibat perkembangan positif negosiasi AS–Iran. Prospek kenaikan suku bunga oleh The Fed tetap menjadi pendorong utama, dengan pasar memprice‑in peluang kenaikan tahun ini, sementara perhatian kini beralih ke data PCE sebagai indikator kunci arah inflasi dan kebijakan ke depan.
Europe
Sentimen konsumen Zona Euro membaik, namun tekanan politik Inggris tetap jadi risiko. Peningkatan consumer confidence ke -17,7 mencerminkan perbaikan bertahap seiring meredanya tekanan harga energi, meski level optimisme masih di bawah rata-rata historis dan menunjukkan daya beli belum sepenuhnya pulih. Di sisi lain, pengunduran diri Perdana Menteri Inggris menambah ketidakpastian politik, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan fiskal dan sentimen pasar, sehingga tetap menjadi faktor risiko bagi outlook ekonomi Eropa dalam jangka pendek.
Yield Eropa mixed, dipengaruhi faktor politik dan meredanya tekanan energi. Penurunan yield Gilt Inggris ke sekitar 4,81% mencerminkan meredanya kekhawatiran terhadap transisi politik pasca pengunduran diri PM, meski fokus pasar tetap pada risiko fiskal ke depan. Sementara itu, yield Bund Jerman relatif stabil di kisaran 2,97% seiring turunnya harga minyak yang membantu menekan ekspektasi inflasi, meski pasar masih memperkirakan adanya tambahan kenaikan suku bunga ECB dalam tahun ini.
Asia
Data Australia dan Korea tunjukkan perbaikan sentimen, namun aktivitas riil masih mixed. Kenaikan PMI manufaktur Australia ke 51,2 menandakan ekspansi berlanjut, didukung perbaikan tenaga kerja dan optimisme bisnis, meski produksi dan pesanan baru masih menunjukkan tanda pelemahan. Sementara itu, sentimen konsumen Korea Selatan meningkat tipis, mencerminkan kondisi domestik yang mulai stabil, namun ekspektasi ke depan yang masih hati‑hati menunjukkan pemulihan ekonomi tetap bertahap di tengah tekanan global.
Yield India stabil, China turun di tengah divergensi kondisi domestik. Yield obligasi India bertahan di sekitar 6,8% didukung inflow asing yang kuat dan turunnya harga minyak, meski ketidakpastian global dan risiko El Niño tetap membatasi penurunan lebih lanjut. Sementara itu, yield China melemah ke sekitar 1,73% mencerminkan sikap hati‑hati investor terhadap prospek ekonomi domestik yang masih tidak merata, sehingga kebijakan moneter cenderung tetap akomodatif dengan pendekatan yang lebih targeted.
