Terakhir diperbarui: 28-06-2026, 01:30
Americas
Inflasi PCE AS tetap tinggi, pasar tenaga kerja masih resilien. PCE naik 0,4% MoM dan 4,1% YoY, tertinggi sejak April 2023, dengan core di 3,4% YoY yang masih jauh di atas target The Fed, sementara services inflation meningkat ke 0,5% (dari 0,3%) meski goods inflation melambat ke 0,4% (dari 0,7%). Di sisi tenaga kerja, initial claims turun ke 215 ribu menunjukkan kondisi masih solid, namun continuing claims naik ke 1,821 juta yang mengindikasikan durasi pengangguran mulai meningkat, sehingga memperkuat narasi “higher for longer” di tengah inflasi yang masih persisten dan ekonomi yang tetap kuat.
Harga minyak melemah, pasokan meningkat meski risiko geopolitik masih ada. Harga minyak turun ke bawah USD 72 per barel seiring meningkatnya arus pengiriman melalui Selat Hormuz dan kenaikan produksi dari negara Timur Tengah, yang memperkuat outlook suplai global. Namun, insiden keamanan di sekitar Oman serta ketidakpastian negosiasi AS–Iran tetap menjadi faktor risiko yang menjaga volatilitas, meski tren mingguan masih ada penurunan harga.
Yield UST turun, tekanan inflasi mereda namun outlook kebijakan tetap hawkish. Yield US Treasury turun ke bawah 4,40% seiring meredanya kekhawatiran inflasi akibat turunnya harga minyak dan melemahnya data PCE, dengan probabilitas kenaikan suku bunga September turun ke sekitar 63% dari 68% sebelumnya. Namun, inflasi inti yang masih elevated serta data konsumsi dan pertumbuhan yang kuat tetap menjaga ekspektasi setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tahun ini.
Europe
Penjualan ritel Inggris melemah tajam, sentimen Prancis mulai membaik. Indikator penjualan ritel UK turun signifikan ke -54 dari -46, mencerminkan tekanan konsumsi akibat lemahnya kepercayaan dan kenaikan biaya, dengan kontraksi juga terlihat pada sektor wholesale. Sementara itu, kepercayaan konsumen Prancis membaik ke 84 dari 82, didorong persepsi yang lebih positif terhadap kondisi keuangan dan prospek ke depan, meski ekspektasi pengangguran masih tinggi.
Yield Eropa turun, ekspektasi pengetatan semakin terbatas di tengah pelemahan ekonomi. Yield Gilt Inggris turun ke sekitar 4,71% didorong data PMI yang kembali kontraksi di level 49,4, memperkuat ekspektasi bahwa Bank of England akan lebih berhati‑hati dalam menaikkan suku bunga. Sementara itu, yield Bund Jerman berada di kisaran 2,85% seiring data ekonomi yang lemah dan pernyataan ECB yang tidak perlu agresif lebih lanjut, sehingga pasar semakin pricing kebijakan yang lebih gradual meski masih membuka ruang satu kali kenaikan suku bunga.
Asia
Inflasi Jepang naik moderat, PBOC perkuat kontrol likuiditas jangka pendek. Inflasi inti Tokyo naik ke 1,6% YoY dan core-ex energy & food mencapai 1,9%, menunjukkan tekanan harga mulai meningkat meski masih di bawah target BOJ, sehingga jalur normalisasi tetap gradual. Di sisi lain, PBOC memperkuat operasi likuiditas melalui overnight reverse repo dan penyempitan interest rate corridor menjadi 50 bps, mencerminkan upaya meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter dan stabilitas pasar uang.
Yield Jepang turun, Australia stabil di tengah meredanya tekanan energi global. Yield JGB turun sekitar 5 bps ke 2,62% seiring turunnya harga minyak ke level pra‑konflik akibat progres negosiasi AS–Iran, yang membantu meredakan kekhawatiran inflasi. Sementara itu, yield Australia bertahan di kisaran 4,7% meski data tenaga kerja solid (+40.300 pekerjaan, pengangguran turun ke 4,4%), karena penurunan harga energi dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS tetap menekan yield premium Australia.
